22 Mei 20266 menit bacaDiperbarui 22 Mei 2026

Santri Horeg: Lebih Dari Sekedar Tukang Sound Biasa

Pesantren menyimpan banyak wajah pembelajaran yang tidak selalu terlihat. Salah satunya adalah santri horeg mereka yang bekerja di balik layar setiap ta'lim berlangsung.

RamayaniRamayani
Santri Horeg: Lebih Dari Sekedar Tukang Sound Biasa

Pendahuluan Di kebanyakan pondok pesantren, kegiatan ta'lim bukan sekadar rutinitas harian ia adalah jantung dari seluruh kehidupan pesantren itu sendiri. Ragamnya pun bermacam-macam. Ada ngaji akbar yang diampu langsung oleh pengasuh atau kiai, sebuah momen yang begitu istimewa karena tidak hanya dihadiri santri, tetapi juga para asatidz muda maupun sepuh, bahkan alumni yang sengaja hadir dari jauh. Ada pula ngaji firqoh yang dibagi per kelompok sesuai jenjang, belum lagi berbagai bentuk pengajian lain yang masing-masing punya kekhasan dan tempatnya sendiri dalam keseharian santri. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian: keberhasilan sebuah ta'lim tidak lahir begitu saja. Selalu ada tangan-tangan yang bekerja diam-diam jauh sebelum kiai mengucapkan basmallah pembuka, dan masih setia berjaga hingga majelis benar-benar usai. Mereka adalah tim di balik layar yang memastikan setiap momen ta'lim bisa berjalan dengan khidmat dan lancar. Salah satu dari tim tersebut adalah santri yang bertanggung jawab atas sound system. Di sinilah istilah "santri horeg" lahir bukan dari dokumen resmi atau SK kepengurusan, melainkan dari gojlokan khas santri yang lama-kelamaan menjelma menjadi identitas. Horeg, sebab memang begitulah keseharian mereka: sibuk dan heboh saat memasang unit, mengecek mikrofon dengan suara menggelegar yang memenuhi sudut pesantren, seolah ingin memastikan tidak ada satu titik pun yang terlewat. Terdengar agak saru, memang tapi justru di situlah letak kehangatannya. Gojlokan itu, tanpa disadari, telah menjadi branding yang melekat, bahkan menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka yang mengemban amanah ini. Tulisan ini hadir dari ingatan seorang yang pernah menghidupi peran itu sendiri bukan untuk sekadar bernostalgia, melainkan untuk berbagi pengalaman bahwa menjadi santri horeg adalah perjalanan belajar yang sesungguhnya, hanya saja kelasnya berbeda: bukan di bangku ngaji, melainkan di balik tumpukan kabel, speaker, dan amanah yang diemban dalam senyap.

Santri Horeg sebagai Media Ta'lim

Seperti yang tidak banyak orang sadari, ta'lim di pesantren tidak semata-mata diukur dari seberapa tinggi jenjang kitab yang dikaji, atau seberapa dalam ilmu yang telah diserap di bangku ngaji. Jika kita mau sedikit melongok lebih jauh, sesungguhnya setiap momen di pesantren menyimpan potensi pembelajaran, baik yang terjadi secara langsung maupun yang hadir tanpa disengaja. Dan santri horeg adalah salah satu bukti nyata dari hal tersebut. Menjadi santri horeg bukan sekadar soal mahir memencet tombol atau merangkai kabel. Ada tuntutan yang jauh lebih mendasar: menjadi pribadi yang beretika dalam menjalankan amanah. Hal ini pernah diucapkan langsung oleh guru kami, Gus Muhammad, dalam sebuah pesan yang sederhana namun membekas "Lak ngesound kui klambine seng rapi, cek ono bedone wong sound pondok karo njobo" kalau mengoperasikan sound, harus berpakaian rapi, agar ada bedanya antara orang sound pondok dengan yang di luar pondok. Kalimat itu bukan sekadar soal penampilan. Ia adalah pengingat bahwa amanah sekecil apapun di pesantren, tetap membawa nama dan nilai lembaga. Memang benar, ilmu sound system tidak pernah tercantum dalam kurikulum pesantren manapun. Tidak ada kitab yang membahas kayfiyatu equalizer atau faslun frekuensi. Namun justru di situlah letak keunikan dan keasyikannya kami belajar dari pengalaman langsung, dari kesalahan, dan dari tuntutan situasi. Menjadi santri yang punya keahlian berbeda dari yang lain pun menjadi kebanggaan tersendiri, sesuatu yang tanpa disadari membuat kami semakin betah dan kerasan di pesantren. Lebih dari itu, kami juga dituntut untuk ikut andil dalam syiar memastikan suara kiai sampai ke telinga seluruh santri dengan jernih dan nyaman. Tidak jarang komplain berdatangan, entah dari sesama santri yang merasa suara kurang keras, atau bahkan langsung dari kiai yang merasa mikrofon terasa berat suaranya. Di sinilah ta'lim sesungguhnya berlangsung: kami harus mampu menerjemahkan "bahasa-bahasa" itu, mencari akar masalahnya, dan menemukan solusi dengan cepat dan tenang. Masih banyak hal serupa yang bisa digali jika kita mau jeli melihat kehidupan pesantren. Apa yang sekilas tampak seperti urusan duniawi mengatur speaker, menyetel frekuensi, menjaga kejernihan suara ternyata bukan perkara yang berdiri sendiri. Proses ta'lim rasanya tidak akan lengkap tanpa kehadiran media-media penunjang seperti sound system, dan di balik semua itu, ada santri horeg yang diam-diam menjadi bagian tak terpisahkan dari berlangsungnya ilmu.

Tantangan dan Tuntutan Santri Horeg

Menjadi santri horeg memang terdengar menyenangkan dan tidak bisa dipungkiri, memang ada sisi serunya tersendiri. Bagaimana tidak? Ada kebebasan untuk cek sound, bahkan dengan lagu-lagu yang relatif keras sesuai genre yang dirasa paling pas untuk menemukan frekuensi yang dibutuhkan. Tentu saja tetap dalam koridor islami, karena identitas kesantrian tidak pernah benar-benar ditanggalkan meski sedang di balik meja mixer sekalipun.Namun di balik keseruan itu, ada tuntutan dan tantangan yang tidak ringan untuk diemban. Salah satu tantangan yang paling nyata adalah ketika santri horeg harus mengimplementasikan keinginan dari dua arah sekaligus. Kiai meminta agar suaranya tidak terlalu kencang, sementara di sisi lain, para santri menginginkan suara yang terdengar jelas hingga ke sudut paling jauh. Dua permintaan yang tampak sederhana, namun tidak selalu bisa dipenuhi secara bersamaan. Di sinilah letak tantangan sesungguhnya. Tidak ada pilihan lain selain mencari solusi bertanya kepada yang lebih senior di bidang ini di lingkungan pesantren, bahkan tidak jarang sampai berkonsultasi dengan rekan-rekan dari paguyuban sound system di luar pesantren. Sebuah proses yang tanpa disadari telah memperluas jaringan sekaligus memperdalam ilmu. Belum cukup sampai di situ. Di luar tuntutan teknis, santri horeg tetap diwajibkan mengikuti seluruh kegiatan pesantren sebagaimana santri pada umumnya. Dan jika santri lain bisa datang tepat waktu lalu pulang saat acara selesai, santri horeg punya cerita yang berbeda. Ia datang lebih awal jauh sebelum ta'lim dimulai, sibuk menyiapkan dan mengecek segala kebutuhan. Dan ia pulang paling akhir setelah semua alat dibereskan, semua kabel digulung, dan semua unit dikembalikan ke tempatnya. Diam-diam, di sela rutinitas yang sudah padat itu, ia menanggung satu lapis tanggung jawab ekstra yang tidak semua orang melihatnya.

Manfaat Santri Horeg

Dari seluruh kisah yang telah diuraikan sebelumnya, ada satu benang merah yang bisa ditarik dengan jelas: santri horeg adalah pribadi yang mampu menemukan pola pembelajaran di setiap momen yang dilaluinya. Dengan paradigma yang positif, ia tidak hanya belajar saat kondisi nyaman, justru dalam keadaan terdesak sekalipun, ia tetap menemukan ruang untuk bertumbuh. Dan dari proses itulah, manfaat kehadiran santri horeg mengalir ke berbagai pihak secara bersamaan. Bagi keberlangsungan ta'lim, santri horeg adalah jembatan yang memastikan pesan kiai sampai ke telinga para santri dengan utuh dan jernih. Tanpa media yang bekerja dengan baik, ilmu yang disampaikan bisa kehilangan jangkauannya. Maka kehadiran santri horeg bukan pelengkap ia adalah penopang. Bagi pesantren, santri horeg turut menjaga profesionalisme lembaga dalam setiap kegiatan pembelajaran. Cara mereka bekerja, cara mereka berpenampilan, cara mereka merespons situasi semua itu secara tidak langsung mencerminkan wajah pesantren di mata siapapun yang hadir. Bagi santri horeg itu sendiri, inilah pihak yang sesungguhnya paling banyak menerima. Dari setiap tantangan yang dihadapi, tumbuh buah-buah yang tidak ternilai, relasi yang terbentuk dengan sesama pegiat sound, ilmu teknis yang terasah dari pengalaman langsung, hingga kemampuan bersosial dengan orang-orang di luar pesantren yang belum tentu memahami karakteristik dan kultur santri. Semua itu bukan sekadar kenangan masa pesantren, melainkan bekal nyata yang akan terus berguna, saat kembali ke rumah, maupun ketika terjun ke dunia kerja yang sesungguhnya. Dan inilah yang menjadi bukti dari sebuah ungkapan yang sederhana namun dalam maknanya Al-harokah Barokah setiap pergerakan pasti ada keberkahan. Santri horeg bergerak, dan dari setiap gerakannya, keberkahan itu hadir bagi dirinya, bagi ta'lim, dan bagi pesantren yang menaunginya.

6 claps

Klik untuk clap (hingga 50)

Bagaimana tulisan ini?

Komentar(0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pemikiran.

Lanjutkan membaca

Tulisan Terkait

>

Made with Emergent