17 Mei 20265 menit bacaDiperbarui 17 Mei 2026

Warisan Sunan Giri yang Masih Hidup: Mengapa Moderasi Islam Gresik Berbeda

Apa rahasia di balik kerukunan Gresik yang bertahan ratusan tahun? Jawabannya bukan kebijakan pemerintah—melainkan sesuatu yang jauh lebih tua, lebih dalam, dan lebih kuat dari itu.

Warisan Sunan Giri yang Masih Hidup: Mengapa Moderasi Islam Gresik Berbeda

Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa Gresik dikenal sebagai kota yang adem, rukun, dan toleran meski warganya datang dari berbagai latar belakang? Jawabannya mungkin tidak sesederhana “karena orangnya baik-baik.” Ada sesuatu yang lebih dalam—sebuah warisan pendidikan yang sudah berakar ratusan tahun dan masih hidup hingga hari ini.

Sebuah kajian mendalam yang menelaah puluhan penelitian dari tahun 2015 hingga 2025 menemukan jawaban itu. Para peneliti menyebutnya “Model Gresik”—sebuah cara mendidik nilai-nilai Islam moderat yang khas, organik, dan terbukti bertahan dari generasi ke generasi.

“Moderasi di Gresik bukan program yang dibuat karena ada instruksi pemerintah. Ini adalah cara hidup yang sudah berlangsung sejak zaman Sunan Giri—abad ke-15.”

Apa Itu “Islam Moderat”?

Sebelum membahas lebih jauh, kita perlu menyamakan pemahaman: apa sebenarnya yang dimaksud Islam moderat? Dalam bahasa Arab, istilahnya adalah wasatiyyah—artinya berada di tengah. Bukan ke kiri yang terlalu liberal, bukan ke kanan yang kaku dan mudah marah. Islam moderat adalah Islam yang sejuk, terbuka, dan bisa hidup berdampingan dengan siapa saja. Ada lima nilai inti yang selalu muncul dalam tradisi pendidikan Islam Gresik:

  1. Tasamuh (Toleransi)
  2. Tawasuth (Jalan Tengah)
  3. Tawazun (Keseimbangan)
  4. Adal (Keadilan)
  5. Shidiq (Kejujuran)

Kelima nilai ini bukan sekadar tulisan di papan. Ia hidup dalam keseharian warga Gresik—dari cara pesantren mendidik santri, cara madrasah mengajar siswa, hingga cara warga desa menggelar tradisi sedekah bumi.

Pesantren: Laboratorium Moderasi Sejak 1875

Pesantren di Gresik bukan pesantren biasa. Tradisinya bisa dilacak hingga tahun 1875, ketika seorang pendakwah keturunan Sunan Giri mendirikan langgar kecil di Suci Manyar. Caranya berdakwah? Bukan dengan konfrontasi, melainkan dengan keteladanan. Itulah DNA pesantren Gresik. Hingga hari ini, pesantren-pesantren di sana menggunakan pendekatan yang sama: nilai moderasi tidak diceramahkan, melainkan dihidupi bersama. Beberapa pola yang konsisten ditemukan dalam penelitian:

  1. Menggunakan tradisi lokal seperti manaqiban, hadrah, ziarah makam ulama, dan gotong royong sebagai jembatan nilai—bukan sekadar ceramah agama
  2. Kitab kuning dikombinasikan dengan pendidikan modern—tradisi dan kemajuan berjalan seimbang
  3. Sistem hukuman mencerminkan nilai adal (keadilan): guru tidak boleh menghukum dalam keadaan marah
  4. Hampir semua pesantren besar di Gresik dapat melacak silsilah keilmuannya hingga ke Sunan Giri

Madrasah dan Sekolah: Moderasi Masuk Kurikulum

Kalau pesantren menanamkan nilai melalui kehidupan bersama sehari-hari, madrasah dan sekolah hadir sebagai ruang yang lebih terstruktur. Di sinilah moderasi mendapat bentuk yang lebih formal dan terukur. Yang menarik, penelitian di beberapa madrasah Gresik menunjukkan satu prinsip yang konsisten: moderasi tidak dijadikan mata pelajaran tersendiri. Ia dimasukkan ke dalam seluruh dimensi kehidupan sekolah—dari cara mengajar, budaya kelas, kegiatan ekstrakurikuler, hingga keteladanan para guru. Di SMP Negeri 2 Gresik, moderasi beragama menjadi bagian dari identitas sekolah, bukan sekadar program tahunan. Di MI Miftahul Ulum Driyorejo, nilai-nilai seperti toleransi, demokratis, cinta damai, dan peduli sosial masuk ke dalam karakter yang dibangun sejak dini—dan hasilnya tercatat dalam kategori sangat baik.

Komunitas: Ruang Paling Jujur

Ini yang paling menarik: moderasi di Gresik tidak berhenti di pesantren atau sekolah. Ia hidup di tingkat komunitas—di desa, di kampung, di perumahan. Salah satu buktinya: di Dusun Ngering, Cerme, warga dari dua ormas berbeda—Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah—justru berkolaborasi membangun ekosistem moderasi bersama. Di banyak daerah lain, dua ormas ini sering digambarkan berseberangan. Di Gresik? Mereka kerja bareng. “Tradisi sedekah bumi—ritual desa yang memadukan tradisi Jawa dengan nilai Islam—adalah ekspresi paling nyata dari toleransi dan keseimbangan dalam kehidupan warga Gresik.” Yang menggembirakan, penelitian juga menunjukkan bahwa model ini tidak hanya cocok untuk desa tradisional. Di Perumahan Sumput Asri Driyorejo—kawasan perumahan modern—nilai-nilai yang sama juga berhasil ditanamkan kepada warga dari berbagai latar belakang.

Empat Ciri Khas “Model Gresik”

Dari seluruh penelitian itu, para akademisi merumuskan empat karakteristik yang membedakan Model Gresik dari program moderasi di tempat lain:

  1. Tumbuh dari dalam (organik-historis). Bukan program dari atas yang dipaksakan. Moderasi Gresik lahir dari proses sejarah panjang sejak zaman Sunan Giri—bukan karena ada peraturan pemerintah.
  2. Bekerja di banyak arena (multi-arena dan sinergis). Pesantren, madrasah, dan komunitas saling memperkuat—bukan bekerja sendiri-sendiri. Inilah yang membuat nilainya meresap ke seluruh sisi kehidupan.
  3. Berbasis budaya lokal. Nilai-nilai Islam disampaikan lewat tradisi yang sudah akrab: manaqiban, hadrah, sedekah bumi—bukan dengan menghapus budaya lokal, melainkan memeluknya.
  4. Dikuatkan ilmu pengetahuan. UNKAFA, UMG, dan Universitas Qomaruddin secara aktif meneliti dan mendokumentasikan praktik moderasi—sehingga tradisi ini terus dikembangkan, bukan sekadar diwariskan.

Peran Perguruan Tinggi: Agar Tradisi Tak Sekadar Diwarisi

Ini yang membuat ekosistem Gresik istimewa: ada lembaga yang bertugas memikirkan dan meneliti tradisi itu secara serius. Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA), yang lahir dari rahim Pesantren Mambaus Sholihin, menerbitkan jurnal ilmiah khusus tentang moderasi Islam. Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) mengintegrasikan nilai moderasi ke dalam seluruh kurikulum. Universitas Qomaruddin aktif berkolaborasi dengan berbagai lembaga untuk memperkuat nilai hak asasi manusia dan toleransi. Hasilnya adalah sirkularitas produktif yang terus berputar: santri pesantren kuliah di universitas lokal, meneliti tradisi yang mereka jalani, lalu kembali ke pesantren atau komunitas dengan pemahaman yang lebih matang. Tradisi terus diperbarui tanpa kehilangan akarnya.

Pelajaran untuk Kita Semua

Kajian ini membawa satu pesan yang penting: moderasi yang bertahan bukan yang datang dari atas, melainkan yang tumbuh dari bawah. Program pemerintah tentang moderasi beragama itu bagus. Tapi program yang paling kuat adalah yang mengakar dalam tradisi, dijalankan oleh komunitas, dan terus diperbarui oleh ilmu pengetahuan. Gresik sudah melakukan itu selama ratusan tahun—dan kita bisa belajar banyak dari sana.

Artikel ini merupakan versi populer yang diadaptasi dari artikel ilmiah “Konstruksi Model Pendidikan Islam Moderat Khas Gresik: Kajian Berbasis Literatur atas Praktik Pesantren, Madrasah, dan Komunitas (2015–2025)” oleh Ahmad Marzuqi & Achmad Miftachul Fawwaz, Program Doktoral PAI, Universitas Kiai Abdullah Faqih Gresik.

1 claps

Klik untuk clap (hingga 50)

Bagaimana tulisan ini?

Komentar(0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pemikiran.

>

Made with Emergent